
Ramadhan dan Makna yang Dibajak
Oleh Dr. Ahmad Muttaqin, M.Si
Momentum Ramadhan selalu istimewa, bukan hanya bagi komunitas muslim tetapi masyarakat secara umum. Hal ini karena Ramadhan telah mengalami transformasi dari makna ibadah spesifik yang transendental menuju bentuk-bentuk yang lebih profan. Muncul simbol-simbol baru untuk bulan yang “suci” dan “berkah” sebagai indikator yang dikampanyekan massif melalui berbagai media dengan kalimat-kalimat propaganda yang cukup agitatif. Proses yang terus-menerus dan massif menjadikan simbol-simbol baru tersebut diterima sebagai keniscayaan dan kelaziman yang common sense. Ramadhan tanpa misalnya ngabuburit atau membagi takjil di jalanan menjadi kurang sempurna.
Kondisi ini semakin massif dengan penetrasi media sosial dan digital yang mendominasi ruang-ruang komunikasi. Berbagai hal yang ditampilkan dalam ruang komunikasi digital menjadi referensi yang dianggap memiliki otoritas dan akuntabel. Masyarakat kemudian menjadikannya sebagai model baru mendampingi atau bahkan menggantikan pola lama yang dianggap telah usang. Proses dan tahapannya terkesan natural, merepresentasikan gerak sosial yang berubah dinamis menuju peradaban baru.

sumber: idn.freepik.com
Gejala ini pada dasarnya telah muncul cukup lama, mengakselerasi hubungan Ramadhan sebagai ibadah spesifik dengan konstruk kebudayaan masyarakat Indonesia yang komunal. Ibadah puasa dikontestasikan pada latar budaya selebritas yang memiliki fungsi utama mengoleksi, memobilisasi, dan mengeskpresikan secara terbuka. Pada saat yang sama, otoritas agama dan negara bergerak berbasis sentimen sosial, menjaga diri sebagai institusi populis dan peduli keinginan publik.
Dari sinilah orkestrasi dilakukan industri, mempertemukan budaya selebritas, selera publik, dan ambiguitas otoritas agama dan negara. Makna Ramadhan yang orisinal dianggap telah usang dan kurang memberikan daya ledak yang memadai untuk tujuan-tujuan yang kapitalistik. Industri menjadi institusi pendatang baru sekaligus menerima kuasa atas diskoneksi tersebut melalui produksi dan reproduksi kebudayaan yang lebih memberikan dampak ekonomis sekaligus politis. Media dan kebijakan dimobilisasi untuk memberikan dukungan bagi akselerasi makna baru tersebut dengan menempatkan industri sebagai arus utama.
Lalu, di mana ruang-ruang refleksi atau perenungan tentang Ramadhan yang transendental? Praktik itu masih tersisa, terutama pada kelompok-kelompok kecil yang menghindari publisitas, terus-menerus memendekkan jarak kesenjangan melalui aktivitas berbagi, atau sekedar mengisi ruang-ruang komunikasi di serambi masjid dan mushalla. Selainnya, dikendalikan oleh industri melalui distribusi produk-produk buatannya.

sumber: idn.freepik.com
Apabila situasi ini tidak menjadi bagian releksi bersama terutama di kalangan intelektual muslim, penetrasi industri pada Ramadhan dan momentus keagamaan lain akan semakin brutal di kemudian hari. Komunitas muslim bukan hanya kehilangan makna dasar penyelenggaraan ritual, tetapi tanpa sadar akan menjadi episentrum konsumen yang mengabsorpsi produk-produk industri atas nama peribadatan. Skalanya akan terus meningkat dan mempercepat komunitas muslim bertransformasi menjadi kelompok masyarakat yang dalam terminologi Baudrillard disebut hyperreality. Ironisnya, kondisi ini kemudian dinikmati bersama sebagai keinginnan kolektif yang pada dasarnya adalah semu.
*Dosen Fakultas Dakwah UIN Saizu Purwokerto