*Oleh: Ageng Widodo, M.A Ramadhan tidak hanya dipahami sebagai ritual menahan lapar dan dahaga, melainkan sebagai momentum spiritual yang berfungsi untuk transformasi diri sekaligus perbaikan sosial. Dalam konteks meningkatnya patologi sosial seperti perilaku ketidakpedulian terhadap sesama, ketimpangan ekonomi, hedonisme serta polarisasi. Ramadhan hadir sebagai antitesis dengan menawarkan nilai-nilai alternatif. Ia menjadi instrumen yang berperan dalam mereduksi gejala sosial negatif serta […]